Talak yang Tidak Sah

Talak yang Tidak Sah

Talak yang Tidak Sah

Talak yang Tidak Sah

  1. Talak karena dipaksa

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa salah satu syarat sahnya talak adalah harus berasal dari keinginan suami sendiri. Dalam ketentuan syara’, jika seseorang dipaksa untuk kufur, dan ia benar – benar tidak bisa menghindari darinya, maka ia boleh melakukannya dan tidak berdosa. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT :

ٳِلَّامَنْ ٲُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَىِنُّۢ بِالْايْمَنِ

Artinya :

“…kecuali, orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam briman (ia tidak berdosa)…” (QS. An-Nahl [16]: 106).

Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum talak yang diucapkan oleh seorang suami yang dipaksa melakukannya adalah tidak sah, dan tidak mengakibatkan terjadinya perceraian. Madzhab Syafi’i termasuk dalam kelompok ini, hanya saja mereka membedakan antara ada atau tidaknya niat didalamnya. Talak yang dipaksa dan dilandasi oleh niat maka hukumnya sah. Sebaliknya, jika talak yang dipaksa tersebut tidak mengandung unsur niat maka talaknya tidak sah.

  1. Talak yang diucapkan oleh orang yang mabuk

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum talak yang diucapkan oleh orang yang mabuk. Jumhur ulama mengatakan bahwa talak yang diucapkan oleh orang yang mabuk hukumnya sah. Alasannya, mabuk yang dialaminya adalah perbuatan dan keinginan sendiri.

Imam asy-Syaukani Rahimakumullah mengatakan, “orang yang mabuk dan tidak bisa menggunakan akalnya maka talaknya tidak sah, karena tidak adanya ‘illat yang menyebabkan sahnya talak. Syariat telah menentukan hukum talak bagi orang yang mabuk. Sehingga, akal kita tidak boleh melangkahinya dengan mengatakan bahwa hukum talak orang tersebut adalah sah.”

  1. Talak yang diucapkan oleh orang yang sedang marah

Berdasarkan penelitian yang mendalam, ada tiga jenis atau tingkatan kemarahan :

  1. Pertama, orang yang sedang marah sampai akalnya tidak berfungsi, kemudian ia menjatuhkan talak kepada istrinya, maka talaknya tidak sah dan tidak menyebabkan perceraian diantara keduanya. Biasanya, orang yang sedang marah besar tidak menyadari apa yang diucapkan, karena ia sudah dikuasai emosi dan nafsu.
  2. Kedua, marah yang terkendali sehingga akal seseorang yang mengalaminya masih berfungsi dengan baik. Para ulama sepakat bahwa orang yang mengucapkan talak dalam keadaan marah seperti ini, hukumnya sah dan keduanya harus dipisahkan.
  3. Ketiga, marah yang berada di antara keduanya, yaitu antara berlebih-lebihan dan terkendali. Para ulama sepakat bahwa orang yang menjatuhkan talak dalam keadaan marah seperti ini, hukumnya sah dan kedua pasangan harus dipisahkan.
  1. Talak yang diucapkan tanpa niat (kesengajaan)

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum talak yang diucapkan oleh seseorang tanpa sadar atau unsur kesengajaan. Jumhur ulama berpendapat bahwa talak yang diucapkannya adalah sah, dan keduanya harus dipisahkan. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

“Tiga perkara yang seriusnya adalah serius, dan candanya adalah serius, yaitu nikah, talak, dan rujuk”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).

Sedangkan menurut Muhammad Baqir, Ja’far Shadiq, serta salah satu pendapat Imam Ahmad dan Imam Malik bin Anas menegaskan bahwa talak yang diucapkan tanpa adanya unsur kesengajaan maka hukumnya tidak sah, dan keduanya tetap berada dalam ikatan tali pernikahan. Oleh karena itu, talak yang tidak mengandung unsur kesengajaan hanyalah permainan yang tidak terkena sanksi hukum. Pendapat ini Didasarkan pada Firman Allah SWT yang menjelaskan tentang pentingnya Azam (keinginan/niat). Berikut :

وَٳِنْ عَزَمُوْااطَّلٰقَ فَٳِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya :

“Dan, jika mereka berazam (berketetapan hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 227)

Termasuk dalam kategori ini adalah talak yang dijatuhkan oleh seseorang yang lupa atau lalai. Rasulullah SAW juga bersabda, “Amalan itu tergantung pada niat”.

  1. Talak yang diucapkan oleh orang yang terkejut

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering menjumpai orang yang latah. Sehingga, ia mudah mengatakan ucapan sesuatu tanpa sadar, dan terjadi secara spontan. Dalam keadaan seperti ini, talak yang diucapkannya adalah tidak sah, dan keduanya tetap berada dalam ikatan pernikahan.

  1. Talak yang diucapkan oleh anak kecil

Imam Malik berpendapat talak yang diucapkan oleh anak kecil tidak berlaku sampai ia mencapai usia baligh. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa talak yang diucapkan anak kecil tidak berlaku sampai umurnya mencapai dua belas tahun.


Baca Juga :